Dugaan Pengancaman Menggunakan Sajam, ST Warga Asal Ojang, Desa Robek Diperiksa di Polsek Reo

Terkini.id, Manggarai – Dugaan melakukan pengancaman, seorang warga asal Ojang, Desa Robek, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai berinisial ST diperiksa di Polsek Reo pada Selasa, 2 Agustus 2022 waktu setempat.

ST diduga melakukan pengancaman menggunakan senjata tajam (sajam) terhadap KS, warga asal Mondo, Desa Robek, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Saat dikonfirmasi media ini, korban KS membenarkan bahwa dirinya telah diancam oleh ST pada 9 Juli 2022.

“Benar pak. Saya diancam menggunakan parang oleh ST,” jelas KS.

KS mengisahkan, pada Sabtu, 9 Juli 2022, dirinya bersama isteri dan saudari kandung dihadang sekelompok orang yang diduga nekat melakukan pengancaman menggunakan sajam terhadap dirinya.

“Pada tanggal 9Juli 2022, saya bersama isteri dan saudari kandung dihadang sekelompok orang. Mereka mau bunuh saya,” ungkap KS saat ditemui media ini di Polsek Reo pada Senin, 1 Agustus 2022.

Dia menuturkan, saat kejadian tersebut di tempat kejadian ada juga Kepala Desa Robek, Hilarius Hanso, Kepala Sekolah SDN Ojang, Kornelis Ependi Endi. Namun, kepala desa tidak mengambil sikap yang tegas terhadap pelaku.

Ia mengaku tidak tahu rencana ST untuk membunuh dirinya. Saat kejadian ia membelakangi ST, sehingga tidak tau rencana pembunuhan itu. Yang mengetahui aksi dari pelaku adalah isteri korban, saudari kandung korban, Kepala Sekolah SDN Ojang, dan Kepala Desa Robek, Hilarius Hanso.

“Saya membelakangi pelaku. Saya tidak liat pelaku. Untung ada saudari kandung yang teriak dan menangkap tangan pelaku,” lanjut KS.

Hal yang sama juga dalam kesaksian saudari kandung korban. Melihat aksi dari ST, dirinya menangkap tangan ST yang waktu itu memegang sebuah parang.

Lako hami ngger olo kudut ngo ne salang ruis deker. Teke olo, KS. Ami kudut ngger one setapak, kudut ngo ne salang. Toe baen laku mai main hia ST ho. Werus kope hia kudut paki KS. Nggo Tae laku apa campit paki ho? Apa salan? Toe wale hia. Cau laku lime de hia (pelaku) ngai cau kope. Tae laku Kepala Desa Robek, co mengenai ho lite kepala desa. Mai tae de kepala desa gah ST na kope hitu. (Kami mau jalan ke menuju jalan dekat deker.  Depan kami, ada KS. Kami mau jalan ke setapak menuju jalan. Saya tidak tahu ST ini entah dari mana. Tiba-tiba tarik parang mau bunuh KS. Saya tanya apa dasar bunuh ini? Apa salah KS? Dia tidak jawab. Saya pegang tangan pelaku yang waktu itu pegang parang. Saya omong kepada Kepala Desa Robek bagaimana menurut kepala desa? Kepala desa hanya minta ST untuk simpan parang),” ungkap Auria Mun saudari kandung korban sambil memperagakan aksi pelaku.

Isteri korban yang ada di tempat kejadian waktu itu juga menghalangi ST supaya membatalkan niatnya bunuh korban.

 “Ami lako cama agu KS. Begitu ita laku kope de hia, tae laku paki le meu.  Paki le meu rona daku, paki! Pande mata aku daripada pande mata rona daku. Memang ata do du hitu. (Kami jalan bersama KS. Begitu saya lihat dia pegang parang, saya bilang kamu bunuh. Kalian bunuh saya punya suami, bunuh! Saya katakan bunuh saya saja. Bunuh saya daripada kasi mati saya punya suami. Memag ada banyak orang waktu itu),” ungkap isteri korban yang tidak mau sebutkan namanya sambil memperagakan kedua tangannya menghadang pelaku.

Saat itu, salah satu warga yang ada di tempat kejadian berniat untuk memvideokan kejadian tersebut. Niat batal lantaran  diancam oleh ST, bahkan mau mengayunkan parang ke arah kamera yang hendak merekam kejadian.

Ite, du Hitu laku pande video. Tapi gah hia kudu ndapu lime daku. Hp daku loda wa tana. (Pak waktu itu saya hendak videokan kejadian tersebut. Tapi pelaku mau potong saya punya tangan. Saya punya hp jatuh di tanah),” ungkap salah satu warga yang tidak mau dimediakan namanya.

Saat ini korban KS masih dalam bayang-bayang ketakutan dan trauma atas kejadian tersebut. Ketakutan itu membuat dirinya untuk membatasi kerja dan keluar rumah.

“Saya takut sekali pak. Saya trauma kejadian itu. Bahkan untuk kerja dan keluar rumah pun saya tidak pergi. Takutnya pelaku bunuh saya di jalan. Siapa yang tau?” ungkap KS.

Korban KS meminta agar Polsek Reo memeriksa ST, Kepala Sekolah SDN Ojang, dan Kepala Desa Robek yang waktu itu hanya berdiam diri di tempat kejadian. Selain itu, korban juga meminta Polsek Reo untuk menindak tegas ST.

“Saya minta Polsek Reo bekerja jujur soal ini. Kami ini orang kampung dan petani. Kami berharap Polsek kerja baik buat kami orang kecil ini,” harap KS.

Saat dikonfirmasi media ini via WhatApp, Kapolsek Reo Komang Agus Budiawan menjelaskan bahwa  pelapor sudah diperiksa. Sementara itu, terduga pelaku pada Selasa 2 Agustus 2022 sudah diperiksa di Polsek Reo.

“Yang sudah diperiksa pelapor atas nama KS. Kemudian terduga pelaku atas nama ST sudah  dipanggil namun tidak hadir karena adanya kesalahan nama dalam surat panggilan. Namun,  hari ini sudah dikonfirmasi dari pihak terduga pelaku dapat hadir untuk dimintai keterangan. Demikian informasi yang dapat saya sampaikan. Apabila ada perkembangan lebih lanjut saya akan teruskan,” lanjut Kapolsek Reo.

Saat ini juga Polsek Reo masih menunggu keterangan saksi dari Kepala Desa Robek, Hilarius Hanso.

“Penyidik kami masih menunggu Kepala Desa Robek, Hilarius Hanso untuk dimintai keterangan sebagai saksi,” tutup Kapolsek Reo.

Bagikan